8/11/24
Beritanusantara.co, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus berupaya meningkatkan akses pendidikan bagi seluruh anak di wilayahnya, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim Dasmiah mengatakan pihaknya terus mengupayakan dalam mengatasi berbagai tantangan.
“Khususnya pemerataan akses pendidikan, di daerah 3T,” ucapnya.
Lanjutnya, salah satu kendala utama adalah keterbatasan anggaran sekolah di wilayah tersebut.
Menurut dia, sekolah di daerah 3T, seperti di Mahakam Ulu dan Kutai Barat, memiliki jumlah siswa yang sedikit.
“Dengan dana BOS yang terbatas, mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan operasional dan mengembangkan sekolah,” ujarnya.
Ia mencontohkan ada sekolah di daerah 3T yang hanya memiliki 60 siswa. Dengan jumlah siswa yang sedikit, dana BOS yang diterima sekolah juga terbatas.
“Sehingga tidak cukup untuk membiayai operasional sekolah dan menyediakan kebutuhan bagi siswa miskin,” katanya.
Dasmiah menekankan perlunya sinergi bersama untuk memastikan sekolah-sekolah di daerah 3T mendapatkan dukungan yang memadai.
Ia berharap melalui rakor itu tercetus program khusus ke depan yang memperhatikan kondisi sekolah dengan jumlah siswa sedikit di daerah 3T.
Selain fokus pada peningkatan akses pendidikan di daerah 3T, pemerintah juga memberikan perhatian serius terhadap penanganan anak putus sekolah dan penyandang disabilitas.
Dasmiah menyebutkan bahwa angka putus sekolah di Kaltim masih menjadi perhatian.
“Masalah putus sekolah ini kompleks. Salah satu penyebabnya adalah kondisi ekonomi keluarga,” ungkapnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah provinsi telah membentuk tim khusus yang bertugas mengidentifikasi dan menangani kasus putus sekolah. Tim ini akan melakukan pendataan dan pemetaan untuk mengetahui penyebab putus sekolah dan merumuskan solusi yang tepat.
“Kita perlu mengetahui secara detail penyebab anak putus sekolah. Apakah karena faktor ekonomi, sosial, atau akademik. Dengan begitu, kita bisa merumuskan intervensi yang tepat sasaran,” pungkasnya.(H/BN)














