Beritanusantara.co, Aceh – Banjir dan longsor yang melanda Aceh Tamiang selama sepekan terakhir menyebabkan ribuan warga terisolasi tanpa akses memadai menuju bantuan. Banyak di antara mereka terpaksa tidur di pinggir jalan karena rumah hancur tersapu banjir.
Khalid, warga setempat, menggambarkan kondisi yang sangat memprihatinkan.
“Kami sudah hampir seminggu tidur di pinggir jalan karena rumah kami hancur. Bantuan yang datang hanya cukup untuk sehari. Kami juga mencium bau bangkai di beberapa titik, entah itu dari manusia yang belum ditemukan atau hewan yang mati. Sampai hari ini kami masih menunggu bantuan berikutnya,” ujarnya panjang.
Sementara itu, Wahyu Pratama, warga Kampung Dalam, menyebut bantuan baru datang pada hari keenam pascabencana.
“Sebelumnya kami bertahan hidup dengan apa saja yang terbawa arus. Kami berenang mengambil kelapa, pisang, atau makanan apa pun yang hanyut. Kalau dapat sedikit beras, kami masak seadanya lalu dibagi-bagi, satu orang satu sendok. Kami lakukan itu terutama untuk anak-anak,” tuturnya.
Ia memperkirakan korban meninggal mencapai 250 orang, dengan 150 lainnya masih hilang. Namun Pemkab Aceh Tamiang belum mengonfirmasi angka tersebut.
Juru Bicara Pemkab, Agusliayana Devita, mengatakan,
“Belum bisa kami pastikan jumlahnya. Banyak wilayah masih tidak bisa dijangkau. Tim sudah bergerak untuk memperoleh data yang detail,” ujarnya. (h/bn)














