Beritanusantara.co, Samarinda – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda terus menggenjot percepatan pemasangan teknologi pengolahan sampah mandiri berbasis insinerator di sejumlah titik. Pemerintah kota menargetkan seluruh unit dapat beroperasi optimal sebelum tutup tahun 2025 sebagai bagian dari upaya pengurangan timbunan sampah perkotaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda, Suwarso, menyampaikan bahwa perkembangan fisik proyek di lapangan menunjukkan tren positif meskipun capaian di tiap lokasi berbeda-beda. Dari hasil peninjauan terakhir, beberapa titik bahkan hampir memasuki tahap uji coba.
“Progresnya cukup baik. Yang paling siap saat ini berada di Polder Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, dengan capaian sekitar 95 persen dan akan menjadi lokasi uji coba perdana,” ujar Suwarso di Samarinda, Jumat (19/12).
Ia merinci, dua unit insinerator di Jalan Nusirwan Ismail, kawasan Loa Bahu, telah mencapai sekitar 85 persen pengerjaan. Sementara itu, pemasangan di Jalan Wanyi, Lempake, serta Bukit Pinang Dalam masih berada di kisaran 70 persen dan dikerjakan secara paralel.
“Saat ini masih ada empat unit yang dalam tahap penempatan, masing-masing dua unit di Kecamatan Palaran, satu unit di Samarinda Seberang wilayah Brimob, dan satu unit di Loa Janan Ilir,” jelasnya.
Khusus lokasi Loa Janan Ilir, DLH melakukan penyesuaian titik pemasangan karena pertimbangan teknis. Posisi awal dinilai terlalu tinggi dan berpotensi menyulitkan manuver kendaraan pengangkut sampah. Namun, Suwarso memastikan seluruh lahan di titik lainnya telah siap sepenuhnya.
Selain penyelesaian infrastruktur, DLH juga memfinalisasi perekrutan sumber daya manusia (SDM) pengelola insinerator. Vendor penyedia teknologi akan memberikan pelatihan intensif, mencakup prosedur operasional mesin, teknik pembakaran, pemeliharaan, hingga standar keselamatan kerja dan penanganan kondisi darurat.
“Kami menekankan aspek keselamatan kerja. Prosedur safety dan emergency harus dipahami betul oleh operator agar operasional berjalan aman,” tegas Suwarso.
Menjawab kekhawatiran publik soal potensi polusi udara, Suwarso menegaskan bahwa teknologi insinerator yang digunakan telah dirancang ramah lingkungan. Residu pembakaran akan dikelola melalui sistem filtrasi berbasis air.
“Uap hasil pembakaran tidak dilepas langsung ke udara. Dialirkan ke bak-bak air khusus untuk diolah kembali sehingga dampak lingkungannya sangat minimal,” ujarnya.
Uji coba perdana direncanakan dilakukan di Polder Air Hitam setelah tahapan instalasi sistem penguapan rampung. Meski mengejar target akhir tahun, DLH menegaskan tetap mengutamakan kesiapan lahan serta kesesuaian standar operasional prosedur (SOP). (h/bn)














