Kalimantan Timur

Inflasi Kaltim Januari 2026 Terkendali, Bank Indonesia Perkuat Pengendalian Harga Pangan

×

Inflasi Kaltim Januari 2026 Terkendali, Bank Indonesia Perkuat Pengendalian Harga Pangan

Sebarkan artikel ini
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan

Beritanusantara.co, Samarinda – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur mencatat aktivitas ekonomi daerah tetap terjaga pada Januari 2026, seiring terkendalinya inflasi pasca perayaan hari besar keagamaan dan Tahun Baru.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan mengatakan, stabilitas harga di Kaltim tidak terlepas dari penguatan langkah pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

“Pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi TPID provinsi dan kabupaten/kota, terutama dalam menjaga pasokan dan keterjangkauan harga pangan,” ujar Jajang dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/2).

Selama Januari 2026, TPID Kaltim menjalankan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Dalam aspek keterjangkauan harga, TPID melaksanakan 21 kali kegiatan gerakan pangan murah, operasi pasar, dan kegiatan sejenis di berbagai daerah.

Berdasarkan data BI, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Timur pada Januari 2026 mengalami inflasi 0,04 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 0,71 persen (mtm).

Perkembangan tersebut mendorong inflasi tahunan Kaltim berada pada level 3,76 persen (year on year/yoy), dengan inflasi tahun berjalan sebesar 0,04 persen (year to date/ytd). Meski demikian, inflasi tahunan Kaltim masih sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 3,55 persen (yoy).

Jajang menjelaskan, inflasi Januari 2026 terutama dipicu oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, seiring berlanjutnya kenaikan harga emas.

“Rata-rata harga emas pada Januari 2026 mencapai Rp2.860.000 per gram, atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan Desember 2025,” jelasnya.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 3,17 persen (mtm) dengan andil 0,23 persen (mtm). Tekanan inflasi juga berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang dipengaruhi meningkatnya permintaan dan penyesuaian tarif air minum PAM.

Namun, tekanan inflasi tersebut berhasil diredam oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dan transportasi. Penurunan harga pangan didukung oleh panen raya di sejumlah sentra produksi, terutama komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah.

Selain itu, normalisasi tarif angkutan udara pascalonjakan permintaan Natal dan Tahun Baru, serta penurunan harga BBM nonsubsidi sekitar 3–4 persen pada awal Januari, turut membantu menahan laju inflasi. (h/bn)

Example 300250