Beritanusantara.co, Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup meningkatkan pengawasan terhadap dua perusahaan berinisial AR dan NSHE yang beroperasi di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, menyusul banjir dan longsor besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada awal Desember.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan apakah kegiatan kedua perusahaan tersebut berkontribusi pada tekanan lingkungan di hulu DAS.
“Pantauan udara memberikan indikasi kuat adanya perubahan bentang alam yang memengaruhi aliran air di kawasan hulu DAS. Karena itu, pemeriksaan lapangan kami lakukan untuk melihat sejauh mana aktivitas pembangunan dan pemanfaatan ruang di wilayah tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap lingkungan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/12).
KLH mengidentifikasi setidaknya tiga aktivitas skala besar yang memperparah kondisi banjir, yaitu kegiatan hutan tanaman industri, pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berskala besar, serta aktivitas penambangan emas di kawasan tersebut.
“Dari peninjauan udara, kami mengidentifikasi tiga sumber utama tekanan terhadap DAS Batang Toru: hutan tanaman industri, pembangunan PLTA yang masif, dan aktivitas penambangan emas. Semua aktivitas ini memberikan tekanan tambahan terutama ketika curah hujan ekstrem melanda,” jelas Hanif.
Selain itu, kawasan hulu juga dipenuhi lahan pertanian kering dan basah yang memengaruhi kemampuan tanah menyerap air hujan. Hanif menegaskan pemulihan lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan parsial.
“Pola curah hujan ekstrem harus menjadi acuan baru dalam perencanaan dan pengendalian ruang. KLH bersama BPLH akan melakukan peninjauan ulang terhadap seluruh persetujuan lingkungan yang berlaku di DAS Batang Toru, dan langkah ini harus dilakukan secara menyeluruh sebagai satu kesatuan,” tegasnya. (h/bn)














