Beritanusantara.co, Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat tidak membuat pasar nasional terbuka secara bebas bagi pihak asing. Ia memastikan, kesepakatan itu justru memberi peluang besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk ekspansi global.
“Kita tidak sedang memberi karpet merah untuk pihak luar, tetapi justru membuka jalan yang lebih besar bagi produk dan pelaku usaha Indonesia untuk bersaing di pasar global,” kata Luhut, Kamis (17/7).
Kesepakatan tersebut diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Selasa (15/7) waktu setempat, mencakup penurunan tarif impor barang asal Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen, sementara produk ekspor AS ke Indonesia dibebaskan dari tarif.
Luhut menjelaskan bahwa pihaknya telah mensimulasikan dampak ekonomi dari dua skenario tarif tersebut.
“Hasilnya sangat positif. Jika tarif diturunkan menjadi 19 persen, maka PDB Indonesia diperkirakan naik 0,5 persen, serapan tenaga kerja tumbuh 1,3 persen, dan kesejahteraan masyarakat meningkat 0,6 persen,” ungkapnya.
Simulasi juga menunjukkan adanya potensi lonjakan investasi sebesar 1,6 persen, terutama pada sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan perikanan.
“Indonesia jadi negara dengan tarif AS paling rendah dibanding negara surplus perdagangan lainnya. Ini membuka peluang besar untuk ekspansi industri kita,” ujarnya.
Trump sebelumnya menyebut Indonesia telah sepakat membeli energi AS senilai 15 miliar dolar, produk pertanian 4,5 miliar dolar, dan 50 pesawat Boeing sebagai bagian dari paket kesepakatan dagang.
“Saya langsung berdiskusi dengan Presiden Prabowo Subianto dan akhirnya kami capai kesepakatan. AS kini memiliki akses penuh ke pasar Indonesia,” ujar Trump saat konferensi pers di Washington. (h/bn)














