Beritanusantara.co, Samarinda- Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Samarinda menggelar aksi unjuk rasa menyoroti satu tahun kepemimpinan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud.
Aksi yang mengusung tajuk “Satu Tahun Disiksa Rudy–Seno, GagalPol” itu berlangsung pada Senin (23/2/2026).
Koordinator lapangan aksi, Angga, menyatakan massa membawa tujuh tuntutan yang dinilai mendesak untuk segera dijawab Pemerintah Provinsi Kaltim. Ia menilai sejumlah program unggulan belum dirasakan secara merata di lapangan.
“Kalau bicara di media besar sekali. Tapi implementasi di lapangan sangat minim,” ujarnya di sela aksi.
Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) dalam pernyataannya menuntut evaluasi dan pemerataan Program Gratispol, tindak lanjut atas kerusakan ekologis di Kaltim, serta percepatan pembangunan infrastruktur yang dinilai belum menyentuh seluruh daerah.
Selain itu, massa juga mendesak penghentian praktik politik dinasti, jaminan perlindungan dan kepastian hak buruh serta masyarakat adat, perlindungan kebebasan berekspresi, serta transparansi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kaltim.
Angga mencontohkan Program Gratispol yang menurutnya belum berjalan sesuai ekspektasi. Ia menyebut di Universitas Mulawarman banyak mahasiswa mendaftar, namun tidak seluruhnya masuk dalam daftar penerima.
“Jadi gratis dari mana?” katanya.
Mahasiswa juga melontarkan kritik simbolik dengan menyematkan julukan “WaluhPol” kepada gubernur. Dalam bahasa lokal, waluh berarti labu kuning (Cucurbita moschata).
Namun dalam percakapan sehari-hari di sebagian masyarakat Kaltim, istilah tersebut kerap digunakan sebagai sindiran terhadap ucapan yang dinilai tak sesuai kenyataan.
Menurut massa aksi, sejumlah janji seperti layanan kesehatan gratis dan pendidikan gratis belum sepenuhnya terealisasi dalam satu tahun kepemimpinan.
“Hanya omong-omong saja. Kami menagih realisasi,” ujar Angga.














