Beritanusantara.co, Samarinda – Kesejahteraan petani di Kalimantan Timur (Kaltim) pada November 2025 secara umum masih terjaga kuat, terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang tetap tinggi pada angka 148,33. Meski mengalami penurunan tipis 0,65 persen dibandingkan Oktober yang mencapai 148,98, posisi NTP Kaltim tetap sangat jauh di atas angka keseimbangan 100.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim Yusniar Juliana mengatakan angka tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan petani masih berada pada kondisi menguntungkan.
“Angka 100 adalah titik keseimbangan NTP. Kalau di bawah 100 berarti petani merugi, tepat 100 berarti hidupnya pada posisi pas-pasan, dan jika berada jauh di atas 100 itu menunjukkan petani berada dalam posisi sejahtera. Dengan NTP kita yang mencapai 148,33, secara umum tingkat kesejahteraan petani masih sangat baik,” jelasnya di Samarinda, Sabtu (6/12).
BPS mencatat lima subsektor pertanian yang menjadi komponen utama pembentuk NTP. Yakni Tanaman Pangan dengan NTP 103, Hortikultura 111,19, Tanaman Perkebunan Rakyat 211,45, Peternakan 107,3, serta Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) sebesar 102,91.
Meski seluruh subsektor masih berada di atas angka 100, Yusniar menjelaskan ada dinamika bulanan yang perlu dicermati.
“Tiga subsektor mengalami penurunan, yaitu tanaman pangan yang turun 0,46 persen, perkebunan rakyat turun 0,92 persen, dan subsektor peternakan turun 0,60 persen. Sebaliknya, subsektor hortikultura naik cukup signifikan yaitu 2,79 persen, dan subsektor perikanan juga naik meskipun kecil, yakni 0,06 persen,” tuturnya.
Ia menjelaskan penurunan NTP bulan ini dipengaruhi dua faktor utama: penurunan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,13 persen, serta kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,31 persen.
“NTP merupakan indikator daya beli petani di perdesaan. Semakin tinggi nilainya, maka daya beli petani semakin kuat, baik untuk konsumsi maupun biaya produksi. Karena itu, meskipun ada sedikit penurunan, posisi NTP kita masih sangat positif,” kata Yusniar. (h/bn)














