Beritanusantara.co, Samarinda – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI terus memperkuat upaya rehabilitasi mangrove di Kalimantan Timur dengan mengembangkan pendekatan Mandara (Mangrove Data Nusantara), sebuah platform data terintegrasi yang dirancang untuk mendukung pengambilan kebijakan, penelitian, serta pelaksanaan rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan.
Penelaah Teknis Kebijakan Direktorat Rehabilitasi Mangrove Kemenhut RI, Agung Rusdiatmoko, mengatakan Mandara dikembangkan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
“Platform ini dibangun dengan menghimpun data dari kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, hingga sumber internasional, sehingga dapat menjadi basis data yang komprehensif,” ujar Agung di Samarinda, Kamis (29/1).
Ia menegaskan bahwa integrasi data menjadi elemen penting dalam memperkuat tata kelola rehabilitasi mangrove, mengingat data mangrove selama ini sangat beragam baik dari sisi luasan maupun sumbernya.
“Mandara hadir untuk mengintegrasikan seluruh data tersebut ke dalam satu platform agar dapat digunakan secara efektif dan akurat,” jelasnya.
Menurut Agung, pengembangan Mandara juga sejalan dengan misi program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang mengedepankan prinsip keberlanjutan, restorasi ekosistem, inovasi, konservasi, serta kolaborasi multipihak.
Platform Mandara dibangun dengan prinsip akurasi dan validasi data, berbasis fakta lapangan, multisektor, mengacu pada Peta Mangrove Nasional, serta dirancang untuk digunakan dalam skala nasional.
Sebagai bagian dari implementasi, Kemenhut terus melakukan sosialisasi Mandara, salah satunya melalui forum Mandara yang digelar pada 26–27 Januari 2026 di Samarinda, Kalimantan Timur. Kegiatan ini bertujuan mendukung pengambilan kebijakan, riset, serta pelaksanaan program rehabilitasi mangrove di daerah.
Sosialisasi tersebut juga dirangkaikan dengan pembahasan pertimbangan teknis program Percepatan Rehabilitasi Mangrove M4CR Kaltim 2026, yang melibatkan lembaga terkait, pemerintah daerah, Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), akademisi, dan mitra pelaksana.
Sementara itu, Manajer Provincial Project Implementing Unit (PPIU) M4CR Kaltim, Asman Azis, menyampaikan bahwa pada 2024 program M4CR telah merehabilitasi mangrove seluas 4.445 hektare di Kalimantan Timur.
“Pada 2025, rencana kerja rehabilitasi mangrove M4CR Kaltim mencakup luasan 1.505 hektare, dengan realisasi penanaman mencapai 499 hektare,” kata Asman.
Ia menjelaskan, sisa luasan 1.006 hektare masih menunggu proses Surat Perjanjian Kerja Sama (SPKS) antara M4CR dan masyarakat, termasuk 262 hektare di Kabupaten Berau yang telah melalui tahapan prakondisi dan kesepakatan masyarakat.
“Hingga April 2026, target kumulatif penanaman mangrove di Kaltim mencapai 8.728 hektare sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem pesisir secara berkelanjutan,” ujarnya. (h/bn)














