Beritanusantara.co, Samarinda – Kota Samarinda menjadi satu-satunya daerah di Kalimantan Timur yang ditunjuk untuk melaksanakan program Sekolah Rakyat dengan skema rintisan. Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan kelompok rentan sosial.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur, Andi Muhammad Ishak, menjelaskan bahwa pelaksanaan sekolah ini masih menunggu persetujuan pembangunan fisik, dan belum berjalan sepenuhnya.
“Sekolah rintisan dapat dijalankan ketika sudah mendapatkan persetujuan pembangunan fisik. Saat ini, salah satu titik yang sudah ditetapkan berada di Samarinda,” ucap Andi, Rabu (16/7).
Sekolah Rakyat dirancang untuk menampung hingga 1.000 siswa, mulai dari jenjang SD kelas 1–6, SMP dengan 18 kelas, hingga SMA dengan 9 kelas. Menurut Andi, rintisan ini hanya dilakukan sekali dan tidak akan diulang di tahun-tahun berikutnya. Seluruh siswa nantinya akan dipindahkan ke sekolah permanen setelah program berjalan.
Karena masih berstatus rintisan, pembiayaan operasional sekolah bersumber dari kombinasi dana APBN dan APBD Provinsi Kaltim. Dana APBD akan dialokasikan untuk kebutuhan pelengkap seperti listrik dan fasilitas non-gedung.
Proses rekrutmen siswa mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Harus masuk DTSEN. Itu prinsip dasarnya. Semua tetap harus terintegrasi. Ini agar pendidikan benar-benar menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang memang membutuhkan dukungan berkelanjutan,” tegasnya.
Meski peluncuran sekolah rintisan di Samarinda yang semula dijadwalkan pada 14 Juli 2025 tertunda karena pembangunan fisik belum rampung, sejumlah persiapan teknis seperti seleksi dan pendataan siswa telah dilakukan. Tiga lokasi diusulkan sebagai titik sekolah rintisan: SMA Negeri 16 Samarinda, BPMP Kemendikdasmen Kaltim, dan BPVP Kaltim. (h/bn)














