Beritanusantara.co, Jakarta – Kekurangan dokter spesialis di daerah terpencil memicu tingginya angka kematian ibu hamil, mendorong Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin merancang kebijakan pelatihan dokter umum agar bisa melakukan operasi caesar dalam kondisi darurat.
Langkah ini disebut sebagai upaya menyelamatkan nyawa di daerah yang tidak memiliki dokter kandungan.
“Saya diminta Presiden Prabowo untuk membangun 66 rumah sakit di daerah terpencil. Tapi kenyataannya, banyak tempat seperti Nias, Anambas, hingga Konawe Utara tidak punya dokter spesialis kandungan. Ibu-ibu hamil harus digotong, bahkan naik perahu untuk mencapai dokter. Dan tidak sedikit dari mereka meninggal dalam perjalanan itu. Maka saya bilang, kita harus kasih dokter umum kompetensi emergency, menyelamatkan nyawa. Itu prinsipnya. Ini juga didukung WHO dengan konsep task shifting,” ungkap Menkes Budi.
Namun usulan ini ditanggapi hati-hati oleh kalangan akademisi. Ketua Senat Akademik UI dan Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Budi Wiweko, menyarankan agar solusi difokuskan pada pemerataan distribusi dokter spesialis, bukan menambahkan kompetensi bedah kepada dokter umum.
“Penyebab utama kematian ibu itu bukan semata-mata karena tak ada operasi caesar. Data kami menunjukkan sebagian besar disebabkan oleh eklamsia, perdarahan, infeksi, dan keterlambatan tindakan di rumah sakit. Jadi masalahnya bukan hanya kompetensi dokter umum, tetapi sistemnya harus dibenahi. Waktu dulu ada program Dokter Umum Plus, mereka dilatih caesar selama enam bulan, lalu dikirim ke daerah. Tapi kasus caesarnya sedikit, mereka tidak percaya diri, dan akhirnya tidak melakukan tindakan. Solusinya bukan pelatihan bedah, tapi distribusi spesialis yang merata,” tegas Prof. Budi.
POGI kini lebih fokus pada pelatihan ultrasonografi terbatas bagi dokter umum agar mampu mendeteksi dini komplikasi kehamilan.
“Sekarang kami rutin latih dokter umum agar bisa USG dasar. Tujuannya bukan menggantikan spesialis, tapi agar mereka bisa tahu lebih awal: apakah kehamilan di dalam rahim, apakah janin berdetak, letak plasenta, posisi bayi. Kalau tahu lebih awal, bisa segera dirujuk. Di FKUI sudah ada modulnya juga, agar lulusannya siap di layanan primer,” jelasnya. (h/bn)














