14/11/2024
Beritanusantara.co, Samarinda – Sektor manufaktur telah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Pada 2023, sektor ini menyumbang 18,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, setara dengan 3.900 triliun rupiah.
Dengan kontribusi yang signifikan ini, sektor manufaktur tidak hanya mendukung ekonomi Indonesia secara keseluruhan, tetapi juga menciptakan keterkaitan yang kuat dengan sektor-sektor lain.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Agusriansyah Ridwan, percaya bahwa Kaltim harus memanfaatkan momentum ini dengan berfokus mengembangkan industri manufaktur di provinsi yang kaya akan sumber daya alam tersebut.
Agusriansyah menegaskan bahwa meskipun sektor pertambangan dan hasil bumi telah menjadi andalan ekonomi Kaltim selama ini, ketergantungan yang berlebihan pada sektor-sektor ini dalam jangka panjang tidak akan menguntungkan.
“Kita harus berbenah dan mulai beralih fokus ke sektor manufaktur. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan tenaga kerja profesional, Kaltim memiliki potensi luar biasa untuk membangun industri manufaktur yang kuat,” ujar politisi Partai Golkar ini dengan penuh keyakinan.
Menurutnya, sektor manufaktur bukan hanya berfungsi sebagai pengolah bahan mentah, tetapi juga sebagai sektor yang menciptakan produk bernilai tinggi. Ini yang menjadikannya sebagai primadona investasi dalam beberapa tahun terakhir. Dalam enam tahun terakhir, sektor manufaktur tercatat menarik lebih dari 40 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia, dengan ratusan triliun rupiah dialokasikan untuk industri ini.
“Industri manufaktur bukan hanya menjadi fokus nasional, tetapi juga sangat relevan untuk Kaltim. Kita perlu mendorong lebih banyak pabrik manufaktur di daerah ini untuk menciptakan ekonomi yang lebih kuat,” lanjutnya.
Agusriansyah melihat pentingnya dukungan pemerintah dalam mendorong pengembangan sektor manufaktur di Kaltim. Ia mengusulkan agar pemerintah provinsi melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) merancang program kerja jangka menengah dan panjang khususnya di bidang manufaktur. Menurutnya, sektor ini berpotensi menjadi kekuatan baru yang dapat mempercepat pembangunan ekonomi Kaltim.
“Kontribusi BUMD terhadap pendapatan daerah masih minim, dan ini harus diubah. Dengan potensi besar yang dimiliki, sektor manufaktur bisa menjadi motor penggerak ekonomi Kaltim,” tegasnya.
Pada 2023, sektor manufaktur di Kaltim mencatatkan kontribusi sebesar 17,73 persen atau setara dengan 149,53 triliun rupiah. Namun, Agusriansyah mengingatkan bahwa angka tersebut masih jauh dari potensi maksimal yang bisa digali.
“Jika sektor manufaktur mendapat perhatian lebih besar dan dikelola dengan baik, kita bisa memperkuat ekonomi Kaltim dalam jangka panjang,” tambahnya.
Agusriansyah yakin bahwa dengan dukungan yang tepat dari pemerintah dan sektor swasta, Kaltim bisa menjadi pusat industri manufaktur yang berkembang pesat, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan daerah secara signifikan.
Sebagai provinsi yang kaya sumber daya alam dan memiliki potensi besar di sektor manufaktur, Kaltim hanya membutuhkan arahan dan kebijakan yang tepat untuk mengoptimalkan segala potensi yang ada.
“Peluang ini ada di depan mata, dan kita harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk pembangunan ekonomi Kaltim yang lebih berkelanjutan,” tutup Agusriansyah penuh semangat. (Pai/Adv/DPRDKaltim)














