15/11/2024
Beritanusantara.co, Samarinda – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Damayanti, mengungkapkan keprihatinannya mengenai perlunya pemerintah daerah lebih serius mengimplementasikan kurikulum pendidikan seks di sekolah-sekolah, mulai dari usia dini.
Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menilai pendidikan seks yang tepat akan menjadi salah satu bentuk perlindungan bagi anak-anak dari ancaman kekerasan seksual yang semakin marak.
Damayanti dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan tentang seksualitas dan kekerasan seksual seharusnya tidak lagi dianggap sebagai topik tabu, melainkan sebagai kebutuhan yang mendesak untuk menciptakan generasi muda yang sadar akan hak-haknya dan cara melindungi diri mereka.
“Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk memberikan edukasi dini mengenai kekerasan seksual kepada anak-anak. Ini bukan lagi hal yang tabu, tetapi keharusan,” ujar Damayanti dalam sebuah wawancara.
Menurutnya, pengenalan edukasi seks harus dimulai sejak jenjang pendidikan dasar (SD) hingga tingkat menengah atas (SMA/SMK). Hal ini, menurut Damayanti, memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan bahwa program edukasi ini terimplementasi secara menyeluruh di seluruh wilayah Kaltim.
“Untuk tingkat pendidikan dasar, SMP, dan PAUD, itu adalah tanggung jawab kabupaten/kota, sedangkan SMA/SMK di bawah naungan provinsi. Oleh karena itu, sinergi antara kedua tingkat pemerintahan ini sangat penting agar program edukasi seks dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.
Damayanti juga menambahkan bahwa kurikulum edukasi seks yang dia usulkan bukan hanya mengajarkan anatomi tubuh, tetapi lebih penting lagi untuk memberikan pemahaman tentang relasi yang sehat dan cara-cara proteksi diri agar anak-anak dapat melindungi diri mereka dari tindak kekerasan seksual.
“Selain pengetahuan tentang tubuh, anak-anak juga perlu diajarkan cara membangun relasi yang sehat dan bagaimana mengidentifikasi serta menghindari situasi yang berpotensi membahayakan. Edukasi seks harus dianggap sebagai bagian integral dari pendidikan mereka,” ujarnya, berharap pemerintah daerah dapat berkolaborasi untuk mengimplementasikan kurikulum ini secara efektif di seluruh sekolah.
Dengan adanya kurikulum edukasi seks yang komprehensif, Damayanti berharap anak-anak di Kaltim dapat lebih siap secara mental dan emosional untuk menghadapi situasi berisiko, sekaligus mempersiapkan mereka untuk tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan sadar akan hak-hak serta keselamatan diri mereka. (Pai/Adv/DPRDKaltim)














