Beritanusantara.co, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi es abadi di Puncak Jaya, Papua, akan mencair sepenuhnya di tahun 2026.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, Senin (24/3), hal ini dipicu oleh peningkatan suhu udara akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca.
“Riset yang dilakukan BMKG oleh tim klimatologi memprediksi di tahun 2026 dikhawatirkan es ini sudah punah, glacier ini sudah punah,” ucapnya.
Ia menyebutkan, fenomena pencairan es ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merupakan dampak dari perubahan iklim secara global.
“Di sini terjadinya pencairan es di pegunungan Himalaya dan tropis. Di Indonesia, kita juga mengalami pencairan tutupan es atau glacier abadi di Puncak Jaya Wijaya, Papua,” katanya.
BMKG menjelaskan bahwa hilangnya hutan-hutan di Papua menyebabkan lonjakan emisi CO2, yang mempercepat kenaikan suhu udara di kawasan tersebut.
“Papua itu terkenal hutannya sangat rapat. Tapi kalau sudah mulai terbuka, maka emisi CO2 itu semakin melompat, yang pada akhirnya meningkatkan suhu udara permukaan,”
ujar dia.
Selain mencairnya es di Puncak Jaya, perubahan iklim juga berdampak pada meningkatnya suhu muka air laut, yang berkontribusi pada terbentuknya badai tropis di wilayah Indonesia.
“Semakin menghangatnya suhu permukaan air laut, memicu terjadinya sirkulasi siklonik yang semakin sering dan intensitasnya semakin menguat,” kata Dwikorita.
Diwkorita menjelaskan, secara teori, badai tropis seharusnya tidak bisa menembus wilayah di antara 10 derajat lintang utara dan selatan, termasuk Indonesia.
Hal ini karena gaya Coriolis, yang dihasilkan dari rotasi bumi, seharusnya menghalau badai tersebut keluar dari zona tropis. Namun, anomali terjadi pada tahun 2021, ketika badai tropis justru terbentuk di dalam zona tropis.
“Itu sudah terjadi dan dikhawatirkan akan lebih sering terjadi apabila kita tidak mampu mengendalikan laju kenaikan suhu, baik suhu udara permukaan maupun suhu muka air laut,” pungkasnya.(H/BN)














