Beritanusantara.co, Samarinda – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur telah memfasilitasi pembangunan 575 unit biogas rumah tangga sejak 2012 hingga 2024. Program ini memanfaatkan limbah ternak sapi untuk mendukung transisi menuju energi baru terbarukan (EBT).
“Pengembangan biogas ini telah berlangsung sejak tahun 2012 hingga 2024,” ujar Kepala Bidang EBT dan Konservasi Energi Dinas ESDM Kaltim, Elly Luchritia Nova, di Samarinda, Jumat (13/6).
Nova menjelaskan, pembangunan unit biogas ini dilakukan secara kolaboratif bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim. Setiap rumah tangga penerima difasilitasi dengan kompor dan alat penanak nasi yang khusus dirancang untuk biogas.
Limbah kotoran dari minimal tiga ekor sapi dapat menghasilkan gas yang cukup untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Menurut Nova, biogas ini lebih efisien dibandingkan LPG. “Selama sapi masih ada, gas terus tersedia. Ini sangat membantu bagi mereka,” ujarnya.
Selain menggantikan LPG, penggunaan biogas juga menghasilkan pupuk organik cair dan padat yang dapat dimanfaatkan petani. Hal ini menciptakan sistem energi terintegrasi yang menunjang swasembada pangan dan energi di tingkat rumah tangga.
“Mereka juga mengalami penghematan LPG, dan karena ada limbah sisa dari biogas, tidak perlu membeli pupuk lagi untuk perkebunan,” jelas Nova.
Saat ini, pengembangan biogas difokuskan pada enam daerah di Kaltim, yakni Kutai Barat, Paser, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Berau, dan Bontang.
Dinas ESDM Kaltim juga merencanakan pengembangan biogas skala besar berkapasitas tujuh meter kubik. Program ini akan difokuskan di 30 lokasi dalam program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT), dengan gas disalurkan melalui jaringan ke rumah-rumah atau menggunakan kantong gas portabel.
“Skala besar ini kami garap tahun ini melalui kolaborasi dengan program PDKT,” imbuh Nova.
Namun, ia mengakui masih ada tantangan dalam program ini, terutama terkait jumlah sapi yang dimiliki masyarakat.
“Kendalanya adalah jika sapi dijual, produksi gas mereka berkurang. Namun, jika ada sapi, pasti akan dimanfaatkan secara maksimal,” katanya.
Selain sapi, limbah ternak lain seperti babi juga disebut memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan menjadi sumber biogas karena menghasilkan limbah dalam jumlah besar. (h/bn)














