Beritanusantara.co, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menargetkan penurunan prevalensi stunting dari 22,02 persen pada 2024 menjadi 14 persen di akhir 2025, dengan memperkuat kolaborasi antar-lembaga di semua tingkatan pemerintahan.
Staf Ahli Gubernur Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian, dan Kesejahteraan Rakyat, Arief Mardiyatno, mengatakan bahwa pihaknya menggencarkan intervensi melalui Dinas Kesehatan, BKKBN, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya.
“Posyandu menjadi ujung tombak dalam konvergensi penanganan stunting di desa dan kelurahan,” ujarnya, Senin (16/6).
Langkah-langkah yang diambil mencakup pemberian vitamin dan makanan tambahan, kunjungan rumah ke keluarga yang tidak aktif ke posyandu, serta edukasi pola asuh dan pola makan sehat.
Selain itu, Pemprov juga menjalankan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang melibatkan peran masyarakat dalam membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi maupun sarana non-nutrisi seperti akses air bersih dan pelatihan ekonomi keluarga.
“Stunting bukan hanya soal gizi. Ini isu kompleks yang melibatkan sanitasi, ekonomi, dan pengasuhan. Maka, semua sektor harus bergerak bersama,” tutur Arief. (h/bn)














