Beritanusantara.co, Samarinda – Banyak masyarakat awam masih menganggap laporan keuangan sebagai dokumen rumit yang hanya penting bagi akuntan. Padahal, dalam praktik bisnis dan investasi, laporan keuangan justru menjadi salah satu alat paling krusial untuk menilai kesehatan sebuah perusahaan.
Seorang praktisi akuntansi Jaka Pramana menegaskan bahwa laporan keuangan sangat vital dalam proses pengambilan keputusan calon investor. Baik investor maupun konsultan yang diminta menganalisis peluang investasi, semuanya harus melihat kondisi perusahaan dari sudut pandang laporan keuangan.
“Kalau kita mau berinvestasi, pasti harus melihat likuiditas, kesehatan keuangan, hingga kepatuhan pajaknya. Analisis laporan keuangan itu wajib, dan idealnya melibatkan akuntan atau akuntan publik,” ujarnya.
Menurutnya, kesalahan paling sering dilakukan masyarakat awam adalah menilai perusahaan hanya dari laba rugi. Padahal, laporan laba rugi bisa saja terlihat bagus di atas kertas, tetapi belum tentu mencerminkan kondisi riil.
Ia mengingatkan bahwa tanpa audit atau pemeriksaan mendalam, keabsahan laporan bisa dipertanyakan. Karena itu, laporan keuangan yang belum ditelusuri lebih jauh belum layak dijadikan dasar investasi.
Banyak investor pemula beranggapan perusahaan besar dan terkenal pasti aman. Faktanya, investor publik hanya bisa mengakses laporan yang dipublikasikan.
“Kalau perusahaan Tbk, kita hanya bisa melihat laporan keuangan triwulan dan annual report yang dipublikasikan. Masuk ke data internal tidak bisa,” jelasnya.
Karena itu, analisis tetap diperlukan meski perusahaan sudah go public.
Bagian Paling Penting yang Harus Dicek
Bagi investor awam, ada beberapa poin utama yang perlu diperhatikan pertama kali:
• Rasio utang terhadap aset → Mengukur kemampuan perusahaan menutup kewajiban saat dilikuidasi.
• Tren omzet dan biaya → Dilihat dari tahun ke tahun untuk menilai efisiensi.
• Kondisi neraca → Menjadi penentu utama kesehatan likuidasi perusahaan.
“Kalau laba rugi cukup lihat tren. Tapi neraca itu yang menentukan seberapa kuat perusahaan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa laba besar bukan jaminan perusahaan aman. Investor tetap harus melihat:
• posisi kas
• besarnya utang
• jumlah piutang
“Buat apa laba besar kalau kas kecil atau piutang menumpuk? Itu tanda manajemen keuangannya bermasalah,” katanya.
Fenomena ini sering terjadi: laporan menunjukkan untung, tetapi perusahaan kekurangan uang tunai.
Risiko yang kerap luput dari perhatian investor awam antara lain:
• likuiditas lemah
• piutang sulit tertagih
• utang berlebihan
• ketidakpatuhan pajak
Jika tidak dicek sejak awal, investor bisa menghadapi kejutan seperti tagihan pajak setelah akuisisi.
Dalam membaca utang, investor perlu memahami jenisnya:
• Utang dagang → Umum pada perusahaan dagang
• Utang bank → Harus dicek perjanjian, jaminan, dan tujuan pinjaman
• Utang pajak → Bisa menjadi risiko tersembunyi
“Utang bank harus ditelusuri: dipakai untuk apa, jaminannya apa, dan bagaimana skema angsurannya,” jelasnya.
Beberapa indikator awal yang patut diwaspadai:
1. Utang lebih besar dari aset
2. Piutang sangat besar dan sulit ditagih
3. Kas kecil meski laba tinggi
4. Arus kas tidak sehat
Ia mencontohkan kasus perusahaan yang labanya besar tetapi piutangnya menumpuk sehingga keuntungan tidak berubah menjadi uang tunai.
“Sekarang prinsipnya cash is king. Ada barang, ada uang itu lebih sehat,” ujarnya.
Baik investor jangka panjang maupun mitra operasional, menurutnya memiliki kebutuhan analisis yang sama. Keduanya tetap memerlukan laporan keuangan yang sehat dan terverifikasi.
Ia berpesan agar masyarakat tidak nekat berinvestasi tanpa pendampingan profesional.
“Gunakan konsultan pajak dan akuntan publik. Kalau jalan sendiri, risikonya bisa jauh lebih besar daripada biaya konsultasi,” pungkasnya.
Kantor Jasa Akuntan (KJA) Jaka Pramana & Rekan
Kontak: 0853-8757-7607














