Beritanusantara.co, Samarinda – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda tengah menyusun standar harga atribut sekolah menyusul keluhan orang tua siswa terkait mahalnya biaya perlengkapan, termasuk seragam dan buku kesehatan.
Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin, mengungkapkan pihaknya telah meninjau langsung ke sekolah yang menjadi sorotan dan menemukan belum adanya standar harga resmi di koperasi sekolah.
“Kami sudah ke sekolah yang jadi model penjualan atribut. Memang belum ada standar harga baku, tapi prinsip koperasi seharusnya menyesuaikan harga dengan pasar dan tidak mengambil untung berlebihan,” ujar Asli, Senin (21/7).
Menurutnya, rancangan harga yang mencantumkan rentang minimum dan maksimum sedang menunggu persetujuan dari Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Asli menegaskan bahwa item yang tidak tercantum nantinya tidak boleh diwajibkan kepada siswa.
“Yang tidak tertulis seperti psikotes tidak boleh ada. Untuk asuransi, ya tidak usah dibuat-buat,” tegasnya.
Asli menambahkan, bagi sekolah yang terlanjur menjual atribut, akan dilakukan evaluasi. Jika harga masih dalam batas wajar, tidak akan dipermasalahkan. Namun jika melebihi standar, pihaknya akan melakukan tindakan khusus.
Salah satu temuan yang disorot adalah buku kesehatan yang dijual Rp50 ribu padahal harga pasar hanya sekitar Rp13 ribu.
“Karena itu, kita buatkan rentang harga agar tidak ada lagi harga yang memberatkan orang tua,” pungkasnya. (h/bn)














