Beritanusantara.co, Samarinda – Satuan tugas pangan terpadu Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar tradisional dan modern di Kota Samarinda guna mengantisipasi beredarnya beras premium oplosan dan beras yang mengandung unsur kontaminasi logam.
Koordinator tim pengawas Satgas Pangan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kaltim, Asep Nuzuludin, menyatakan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut atas pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkait peredaran ratusan merek beras yang diduga tidak sesuai standar dan terindikasi dioplos.
“Informasi resmi dari pemerintah pusat ini bukan hal kecil, karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat. Maka dari itu, kami menyusun langkah-langkah pengawasan hingga pelaksanaan sidak di berbagai pasar,” ujar Asep, Sabtu (26/7).
Ia menegaskan bahwa praktik pengoplosan tidak hanya menyangkut aspek etika usaha, tetapi juga bisa memicu ketidakstabilan harga dan keresahan publik. Sidak dilakukan di enam titik, mencakup dua pasar tradisional, dua ritel modern, dan dua distributor besar.
Gunadi, koordinator pengawas lainnya, menyampaikan bahwa dari hasil sidak awal, beberapa sampel beras premium telah diamankan dan akan diuji di laboratorium. Tak hanya kualitas fisik seperti kadar patahan dan kadar air, pengujian juga mencakup aroma serta warna.
“Selain dugaan pengoplosan, kami menemukan indikasi kontaminasi logam dari salah satu merek beras yang memberikan hadiah promosi berupa sendok logam langsung di dalam kemasan beras. Praktik seperti ini sangat membahayakan. Benda logam yang bersentuhan langsung dengan beras dalam jangka waktu lama bisa melepaskan partikel mikro yang berisiko masuk ke makanan,” tegas Gunadi.
Ia menambahkan bahwa Satgas akan terus melakukan pengawasan rutin dan bersinergi dengan instansi terkait untuk menjaga kualitas dan stabilitas harga bahan pokok di Kalimantan Timur. (h/bn)














