Beritanusantara.co, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mulai merekrut 50 petugas yang akan ditugaskan mengoperasikan insinerator komunal di 10 kecamatan sebagai bagian dari percepatan transformasi pengelolaan sampah berbasis teknologi.
Rekrutmen dimulai bulan ini dan akan disertai pelatihan teknis. Setiap lokasi insinerator akan dijaga oleh lima petugas—empat di antaranya bertugas memilah sampah dan satu orang sebagai operator alat.
“Persiapan personel kita mulai bulan ini. Kita akan mulai merekrut dan memberi pelatihan terkait operasionalnya. Kira-kira satu tempat direncanakan ada lima orang,” ucap Kepala Bidang Limbah B3 DLH Samarinda, Boy Leonardo Sianipar, Rabu (9/7).
Menurut Boy, penyebaran insinerator ke 10 kecamatan menyesuaikan kondisi lapangan. Sebagian wilayah kota dianggap tidak memiliki zona penyangga yang memadai, sehingga insinerator akan dialihkan ke kawasan seperti Kecamatan Sambutan yang lebih representatif namun tetap melayani kecamatan sekitarnya.
“Berdasarkan jumlah memang idealnya ditaruh di 10 kecamatan, tapi karena wilayah kecamatan kita ada yang terletak di kota, sehingga yang cocok dan representatif itu tidak ada. Jadi diarahkan ke pinggir,” terangnya.
Pengadaan insinerator ini ditujukan untuk mengatasi timbunan sampah harian di Samarinda yang mencapai 600–650 ton. Boy menekankan pentingnya pengangkutan rutin untuk mencegah penumpukan yang berpotensi menimbulkan krisis sampah.
“Kalau satu hari saja tidak terangkut, pasti akan menjadi masalah satu minggu. Karena kemampuan kita mengangkut 600 ton. Ketika tidak dilaksanakan secara efektif dalam satu hari, maka akan menjadi beban di hari-hari berikutnya,” jelasnya.
Seiring dengan upaya peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah, DLH juga menjajaki kembali kerja sama dengan investor asal Korea Selatan. Bila sebelumnya pembahasan berfokus pada teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF), kini orientasi bergeser ke teknologi insinerasi yang dinilai lebih efisien dan berpotensi menghasilkan energi.
“Di tahun ini, saat kunjungan ke TPA beberapa waktu lalu, ada mulai lagi dengan metode insinerasi. Jadi pihak investor sebelumnya mengajukan itu bukan insinerasi tapi lebih kepada pengelolaan RDF. Tapi sekarang lagi diwacanakan adalah insinerasi karena melihat potensi yang bisa dikonversi jadi energi,” pungkas Boy. (h/bn)














